Candi Cetho Karanganyar Potensi Wisata Sejarah Masa Lampau Simbol Kejayaan Majapahit

Cetho Candi

Karanganyar – Candi Cetho terletak di lereng Gunung Lawu di puncak Cetho, diatas kebun teh Ngargoyoso, Karanganyar. Cani dengan corak Hindu ini dibangun oleh Kerajaan Majapahit pada abad ke 15 Masehi. Candi ini berada pada ketinggian 1496 m di atas permukaan laut sehingga suasanya sangat dingin. Kata Cetho sendiri mengartikan “jelas” dalam bahasa Indonesia karena dilokasi ini pandangan mata bebas memandang kemanapun dengan beba. Itulah makanya dilokasi ini banyak digunakan sebagai lokasi untuk memasang stasiun relay karena tanpa hambatan.
Saat ditemukan bangunan candi ini merupakan reruntuhan batu dengan 14 teras. Sebelum memasuki gapura yang besar dan berbentuk candi Bentar, pengunjung akan mendapati 2 pasang arca penjaga. Aras pertama setelah gapura masuk yang merupakan teras ketiga merupakan halaman candi. Aras kedua masih berupa halaman. Pada aras ketiga terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto.
Sebelum memasuki aras kelima atau teras ke 7, pada dinding kanan gapura terdapat inskripsi yang tertera tulisan pada batu dengan aksara Jawa Kuna berbahasa Jawa Kuna berbunyi “pelling padamel iri kang buku tirtasunya hawakira ya hilang saka kalanya wiku goh anaut iku 1397”. Tulisan ini ditafsirkan sebagai fungsi candi untuk menyucikan diri atau ruwat dan penyebutan tahun pembuatan gapura, yaitu 1397 Saka atau 1475 Masehi. Di teras ke 7 terdapat sebuah tataan batu mendatar di permukaan tanah yang menggambarkan kura-kura raksasa, surya Majapahit dan diduga sebagai lambang Majapahit dan simbol phallus atau penis, alat kelamin laki-laki sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik (piercing) bertipe ampallang. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Ditataran ini juga terdapat simbol binatang. Pada aras selanjutnya dapat ditemui jajaran batu pada 2 dataran bersebelahan yang memuat relief cuplikan kisah Sudamala, seperti yang terdapat pula di Candi Sukuh yang sangat populer pada masyarakat Jawa.
Cipto Kasmir salah seorang pengelola Candi mengatakan pada hari biasa kunjungan sekitar 30 – 50 orang namun pada hari Minggu dan libur bisa lebih dari 100 orang. Juru Kunci Cipto yang sudah bekerja sejak tahun 1981 mengungkapkan hal senada bahwa Cetho biasa digunakan untuk beribadah. Pengunjung Cetho bisa berasal dari lokal maupun Internasional.
Subarkah dari Karanganyar mengungkapkan bahwa dalam seminggu sangat padat sekali dengan penugasan maka dia sengaja datang untuk refreshing di lokasi ini sambil melihat sejarah masa lalu.
Hal senada juga diungkapkan oleh Pasangan suami istri Taufik dari Yogyakarta setelah reuni di Amanah juga mengunjungi Cetho dan merasa kagum sekalihus bangga bahwa orang dahulu kuat maka cagar budaya ini harus dijaga dan dilestarikan sebagai pusat studi dan menggali sejarah.
Candi Cetho juga memberikan keuntungan lain bagi fotografer lainya untuk menawarkan jasanya foto langsung jadi Pak Wardi meatok harga Rp 25.000 sebagai imbalan jasanya.
Pengunjung Cetho juga dianjurkan menggunakan kain kotak – kotak yang dikelola oleh karang taruna setempat dan sekedar menghormati.

(1)

InterMedia Hosting dan Domain

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.